Friday, April 25, 2008

Pak Yanto "Tukang Semir Sepatu"

oleh : Lydia (15) dan Sara(26)

Pada hari jumat kami mencari orang yang bisa diwawancarai di dekat rumah Lydia. Sewaktu kami sedang berjalan-jalan mencari orang yang bisa diwawancarai, kami melihat seorang bapak yang sedang duduk di pinggir jalan, dengan sebuah kotak yang terbuat dari kayu. Pertama-tama kami tidak berani mendekatinya, tetapi akhirnya kami memberanikan diri untuk bertanya kepada bapak tua itu. Ternyata,ia adalah seorang tukang semir sepatu. Beliau bernama suyanto yang bekerja setiap hari, berangkat dari rumah pukul 8 pagi. Beliau pergi bekerja dengan mengandalkan kotak semir sepatunya. Pak yanto tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Istrinya yang bernama sutinem yang hanya bekerja sebagai tukang cuci pakaian. Sedangkan dua orang anaknya baru berumur 6 dan 10 tahun. Dan yang satu lagi sudah besar dan tidak tinggal bersamanya.

Setiap hari Pak yanto hanya mendapatkan pengahasilan yang tidak menentu tergantung dengan banyaknya sepatu yang ia semir pada hari itu. kurang lebih ia hanya mendapatkan uang sekitar Rp. 15.000,00 – Rp. 20.000,00 / hari. Ia merasa belum bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sedangkan penghasialan istrinya pun belum juga bisa menutup kerukarangan kebutuhan hidup keluarganya.

Anak pertamanya yang masih berumur 15 th sudah berkerja menjadi seorang pembantu rumah tangga di sebuah keluarga, dan tidak lagi tinggal bersamanya. Akan tetapi tanggungan hidunya masih belum juga berkurang, karena ia harus menyekolahkan kedua anaknya yang masih bersekolah di sd. ia tidak bisa membayar uang masuk smp untuk anaknya yang akan lulus tahun ini. Maka anaknya pun tidak dapat melanjutkan sekolahnya karena beban biaya yang tidak bisa ia tanggung lagi.

Kami pun turut iba mendengar cerita hidup beliau. Walaupun beban yang ia tanggung begitu berat ia tetap sabar dan selalu bersyukur kepada Tuhan berapa pun pendapatan yang ia terima pada hari itu.

(REFLEKSI PRIBADI) REVA, RINI, ALDA: antara ngamen, lelaki, dan perempuan

LINTANG X4 - 18
Tanggal 23 April yang lalu saya dan Triska melakukan wawancara dengan 3 orang waria. Mereka bernama Alda, Reva, dan Rini. Ketiga waria ini sudah cukup lama bekerja sebagai waria. Biasanya pada siang hari mereka berkeliling di sekitar perumahan di daerah Pasar Minggu. Dan pada malam hari menjelang pagi mereka terkadang mendapat job untuk manggung di diskotik.

Kehidupan mereka sungguh memprihatinkan bagi saya. Karena umur mereka yang masih terbilang muda, seharusnya bisa membantu keluarga mereka dengan pekerjaan yang lebih layak seperti cleaning service. Namun karena keterbatasan pendidikan baik di sekolah maupun pendidikan moral menyebabkan mereka terjerumus ke dalam dunia yang mungkin sebenarnya mereka tak ingini. Seperti yang dialami oleh Rini salah satu waria yang mengaku bahwa pekerjaan ini dilakukannya karena terpaksa untuk membantu ekonomi keluarganya walaupun sampai sekarang kedua orangtuanya belum mengetahui tentang keseharian anaknya ini.

Dari percakapan singkat yang saya lakukan bersama dengan Triska beberapa hari yang lalu, saya menyadari bahwa banyak orang di sekitar kita yang juga hidup dalam keterbatasan. Bahkan sampai melakukan hal tabu demi mencari uang untuk mendapatkan sesuap nasi. Terkadang kita masih sering mengeluh di saat apa yang kita ingini dan kita perlukan tidak bisa terpenuhi. Padahal di luar sana dan yang juga ketiga waria itu alami, belum tentu mereka bisa makan tiga kali sehari seperti yang biasa kita lakukan. Hal ini membuat saya tersadar bahwa seharusnya kita bersyukur dengan apa yang kita punyai dan harus bisa menerima kekurangan . Seperti halnya kata pepatah bahwa manusia hidup tidak akan pernah puas begitulah juga dengan kita alami di masa sekarang. Walaupun satu kebutuhan kita terpenuhi nantinya akan muncul lagi kebutuhan – kebutuhan lain yang tiada henti. Saya menjadi lebih berpikir untuk menerima dan mensyukuri apa yang telah saya miliki sekalipun saya masih selalu merasa kekurangan.

Tidak hanya rasa syukur yang saya dapatkan, tetapi juga rasa untuk menerima adanya perbedaan di tengah – tengah kita. Saya yang menganggap tadinya waria adalah kaum terbuang sekarang menjadi lebih menyadari bahwa mereka juga adalah kaum yang perlu dihargai. Selain karena usaha keras mereka untuk menghidupi diri,juga usaha mereka untuk dapat diterima di masyarakat yang kebanyakan memandang mereka sebelah mata.

Hal lain yang saya dapatkan adalah ketika mereka menganggap sebuah tantangan menjadi sesuatu yang menyenangkan membuat saya tersadar untuk bisa menjalani hidup ini dengan bahagia dan menganggap hidup adalah suatu kesempatan di mana kita harus menjalaninya dengan suka cita, menganggap tantangan atau kesedihan sebagai bumbu sehingga hidup bukan sekedar hidup yang rasanya hambar. dan menurut saya, kemiskinan bukanlah menjadi sebuah alasan di mana seseorang menjadi terpuruk dan tidak bisa tegak berdiri menjalani hidupnya dengan gembira seperti yang saya simpulkan dari ketiga waria tersebut dalam menjalani kesehariannya.

Thursday, April 24, 2008

Refleksi Pribadi : Menyadari arti kehidupan sesungguhnya

Saya bersyukur karena melalui tugas wawancara yang diberikan ini, saya menjadi lebih menyadari akan segala sesuatu yang tidak pernah sekalipun terpikirkan oleh saya sebelumnya, yang selama ini terjadi di sekitar saya. Bahwa masih banyak orang di sekitar saya yang hidupnya tidak seberuntung saya. Masih banyak orang yang bahkan hanya untuk makan sesuap nasi saja harus berjuang dan bekerja keras sebelumnya. Masih banyak orang yang merasakan pahitnya kehidupan, karena sulitnya mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Karena selama ini, ketika saya ingin makan, semua makanan sudah tersedia di atas meja makan, tanpa saya harus melakukan suatu perbuatan yang berarti. Tapi terkadang saya masih juga tidak bersyukur, karena makanan tersebut kurang enak, dan saya pun memutuskan untuk tidak makan makanan tersebut, bahkan meminta pembantu saya untuk memasakkan makanan lainnya.

Saya juga terkadang kurang bersyukur dengan segala sesuatu yang telah diberikan orang tua saya kepada saya. Saya merasa kurang puas dengan segala yang sudah saya miliki, dan selalu menuntut yang lebih baik lagi, yang lebih baru lagi. tanpa mengingat kebutuhan orang lain yang lebih membutuhkannya. Dan ketika permintaan saya tersebut tidak dipenuhi, saya menjadi marah kepada kedua orang tua saya dan ingin sekali rasanya menjauhi mereka.

Tapi, saya mulai mengenal Pak Toha melalui tugas wawancara ini. Pak Toha yang dalam hidupnya yang tidak bisa dikatakan cukup, ia selalu bersyukur atas apa yang di dapatkan hari itu, entah uang itu hanya cukup untuk kebutuhannya hari itu atau bahkan cukup untuk menabung biaya kuliah anak pertamanya dan biaya sekolah anak keduanya. Ia bahkan hidup jauh dari keluarganya, namun ia bersyukur karena masih dapat melepaskan rasa rindunya dengan pulang seminggu sekali ke rumahnya di Bojong. Saya kagum atas kerja keras dan perjuangan Pak Toha untuk dapat menghidupi kehidupannya dan keluarganya.

Dengan mendengar cerita tersebut, saat itu pula saya menjadi sadar, bahwa selama ini saya tidak pernah bersyukur akan semua yang saya miliki. Saya merasa malu karena saya selalu kurang bersyukur atas hidup saya selama ini, padahal di luar sana masih banyak orang yang tidak seberuntung saya.

Oleh karena itu, mulai saat ini saya akan lebih mensyukuri akan segala sesuatu yang saya miliki, lebih mensyukuri hidup saya ini, lebih menghargai orang tua dengan segala perjuangan, kerja keras dan jerih payah mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, dan lebih peduli kepada orang yang tidak seberuntung saya sesuai dengan kemampuan saya.
Marlene Jane X4 / 21

Sekarang: Sadar dan Bersyukur !!

Tak pernah terbayang oleh saya, untuk hidup seperti sekarang. Hidup dengan segala kecukupan. Lain dengan kehidupan pak Elan jelan yang perlu bekerja keras untuk hidup. Sejak saya tinggal di Jakarta, saya tidak pernah mendengar pekerjaan “pembuat perahu”. Mungkin bila waktu itu bu Cicil tidak memberikan saya tugas ini, dan bila teman saya tidak mengajak saya untuk ikut SSVC untuk mengajar anak-anak di perkampungan nelayan, mungkin saya tidak pernah sadar akan pekerjaan Elan Jelan. Menurut saya pekerjaan di Jakarta kebanyakan hanya yang berhubungan dengan perkantoran. Tapi, setelah pergi ke perkampungan nelayan itu, saya begitu kaget. Melihat masih ada seorang pembuat perahu. Saya begitu terkesan dengan kisah hidup pak Elan Jelan itu, ia harus melewati jalan yang berliku-liku hingga bisa menjadi seorang pembuat perahu, dan tetap terus bertahan lagi. Karena biasanya, orang di Jakarta akan cenderung untuk pindah ke pekerjaan lain yang lebih baik.

Saya sadar dan sangat bersyukur karena saya hidup jauh lebih baik dari mereka. Melihat anak-anak yang ikut dalam SSVC, mengajar mereka, saya merasa sangat beruntung. Selama ini saya kurang bersyukur akan apa yang saya miliki, dan tidak memperlakukan apa yang saya miliki dengan baik, saya berbuat sesuka hati saya, tapi sejak melihat mereka, saya saya sadar untuk tidak memperlakukan apa yang saya punya sesuka hati saya lagi. Mereka melihat pensil mekanik saja sangat bingung, dan dengan kepolosan mereka membuat saya merasa malu. Karena barang yang saya miliki terlihat begitu “wah” di mata mereka. Tapi, saya menganggap barang yang saya punya itu biasa saja. Sungguh berbeda!

Maka itu mulai sekarang saya akan lebih menghargai jerih payah orang tua saya karena melihat kerja keras pak Elan Jelan, dan saya akan terus mengucap syukur pada Tuhan atas segala rejeki yang saya terima.

oleh: Stevanny W. x4/28

Elan Jelan “si Pembuat Perahu”


Di dunia ini, kehidupan manusia tidak ada yang sama. Ada yang memiliki kekayaan yang lebih tapi ada juga yang kurang. Terkadang seorang yang kaya bisa berbalik 1800 menjadi miskin, itu semua misteri Tuhan. Tetapi, bila kita mau terus mengusahakan yang terbaik maka kehidupan kita pun akan jadi lebih baik.

Jakarta, kota metropolitan sekaligus ibukota negara Indonesia penuh dengan hingar bingar kemewahan dan modernisasi di segala bidang. Semua aktifitas pemerintahan terjadi di Jakarta. Di tengah semua kenyamanan dan kenikmatan yang kita dapat, masih ada orang yang tak bisa merasakan hal itu.

Seperti pak Elan Jelan, seorang pembuat perahu yang tinggal di daerah perkampungan nelayan, Cilincing, Jakarta Utara. Ia lahir di kampung halamannya, Indramayu. Di usia 14 tahun, ia berhenti sekolah. Sejak saat itu, ia mulai membantu ayahnya yang bekerja sebagai pembuat perahu.

2 tahun kemudian, pak Elan Jelan dan orangtuanya pindah ke Jakarta. Setelah orangtuanya meninggal, ia yang meneruskan usaha ayahnya. Dalam pengembangan usahanya ini, ia pernah mengalami hambatan, saat menghadapi krisis moneter, dan ia pun bangkrut. Ia sempat menganggur dan akhirnya terpaksa menjadi seorang tukang batu di sebuah pertambangan. Walau sudah bekerja keras, penghasilannya ini masih tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka ia pun memutuskan untuk bekerja sebagai ‘kenek’ tukang bangunan, karena penghasilannya sedikit lebih baik.

Setelah beberapa tahun, ia berhasil mengumpulkan modal untuk kembali menggeluti pekerjaan awalnya sebagai pembuat perahu. Ia memulai usahanya sendirian dan lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sampai sekarang pun ia masih menjadi seorang pembuat perahu, pekerjaan yang hampir jarang ditemukan di Jakarta.

Sampai sekarang ia telah memiliki 4 anak. Kebutuhan hidup terus mendesak mengakibatkan anak lelaki pertamanya harus putus sekolah dan hanya mengeyam pendidikan sampai SD. Ketiga anaknya yang lain pun tidak bersekolah. Sungguh malang nasib pak Elan Jelan.

Harga tiap perahu berkisar 8 jutaan, tapi permintaan akan pembuatan perahu tidak datang terus menerus. Penghasilannya itu belum bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya sekarang. Belum lagi bahan-bahan seperi kayu, harus ia siapkan sendiri. Tak jarang pak Elan Jelan merugi akibat permintaan konsumen yang berubah-ubah.

Untung saja,ada sebuah les gratis yang diberikan oleh anak-anak SMA Santa Ursula sehingga ketiga anaknya yang tidak bersekolah itu bisa sedikit merasakan pendidikan.

Demi terus berusaha memperbaiki perekonomian keluarganya, pak Elan Jelan yang hanya dibantu oleh satu anak lelakinya itu, rela pergi ke luar kota sperti Blitar, Jawa Tengah, Cianjur, dan Tangerang demi mengejar pekerjaan. Sekarang yang terpenting baginya, ia dan keluarganya bisa terus melanjutkan hidup.

Semoga kerja keras yang ia lakukan bisa membuahkan hasil yang menggembirakan dan bisa menyekolahkan anak-anaknya yang masih kecil, dan semoga kehidupannya bisa menjadi lebih baik.

oleh: Stevanny W./28_Vania/30 (x4)

ANTARA UANG TUA DAN SEMANGAT LAYAKNYA ORANG MUDA


Pada hari Senin tanggal 21 April 2008, kami (Dea dan Cella) pergi ke Pasar Baru untuk mencari orang yang hidup dalam kemiskinan untuk diwawancarai. Setelah kami berputar-putar dan pusing karena banyak orang-orang yang tidak mau kami wawancara, akhirnya kami menemukan seorang bapak tua yang bekerja sebagai penjual uang-uang kuno.
Bapak tersebut bernama Pak Arifin dan sekarang beliau berumur 76 tahun. Beliau sudah berjualan uang-uang kuno sejak tahun 1958 di daerah Pasar Baru. Sebelumnya, beliau pernah juga berjualan koran dan main dolar. Hal itu dilakukan untuk menghidupi kebutuhan hidupnya dan setelah menikah, beliau pun harus menghidupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.
Pak Arifin memiliki 6 orang anak, 2 perempuan dan 4 laki-laki, namun istrinya kini sudah meninggal. Setelah anak-anaknya besar, beliau hidup sendirian dengan mengekost di daerah Pasar Baru. Beliau menggunakan hasil berjualan uang-uang lamanya untuk menghidupi kebutuhan hidupnya. Anaknya kini sudah hidup sendiri-sendiri.
Pak Arifin mengaku bahwa hasil penjualan tersebut hanya cukup untuk makan sehari-hari. Itu pun ia harus berhemat mengingat hasil yang ia dapatkan kerap kali kurang. Ia mengaku bahwa sekarang jarang sekali orang yang mau membeli uang-uang kuno dibandingkan dengan jaman dahulu.
Walaupun begitu, Pak Arifin tetap menyenangi pekerjaannya tersebut karena berjualan uang-uang kuno sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Hal itu juga sekalian melengkapi hobinya yang senang dengan barang-barang kuno.
Yang sangat kami banggakan adalah perjuangannya yang begitu besar dan semangatnya yang tiada henti mengingat usia Pak Arifin yang sudah tidak muda lagi dan beliau harus bekerja mulai dari jam 8 pagi sampai 3 siang. Melihat lagi kondisi Pasar Baru yang outdoor sehingga terik panas matahari pun senantiasa terpancar.
Kami sangat menikmati wawanara tersebut karena Beliau sangat ramah dan mau menjawab segala pertanyaan kami tanpa ada rasa canggung. Namun akhirnya kami harus menghentikan wawancara mengingat Pak Arifin masih harus mencari nafkah. Yang hanya dapat kami katakan adalah “Terima kasih” dan “Berjuang terus ya Pak ! Semoga usahanya sukses !”



Dea ( X-4 / 1 ) & Cella ( X-4 / 16 )

SUDAHKAH ANDA DAN SAYA BERSYUKUR ?

Saya bisa dikatakan sebagai anak yang kadang kurang suka bersyukur kepada Tuhan. Saya sudah memiliki yang ini tapi saya masih selalu merengek-rengek kepada orang tua untuk dibelikan yang itu. Seringkali rasa tak puas itu muncul dan menyebabkan saya jarang bersyukur atas apa yang telah saya punya.
Setelah saya melihat-lihat keadaan kota Jakarta sekali lagi timbul rasa syukur yang sangat besar. Saya sangat bersyukur karena saya masih dapat hidup, memiliki keluarga yang lengkap dan harmonis, hidup berkecukupan, dapat bersekolah, dan memiliki teman-teman yang banyak. Kadang saya malu karena sering tidak bersyukur padahal Tuhan sudah baik sekali memberikan ini semua kepada saya.
Dan lewat tugas Religio ini saya makin betul-betul merasakan kebaikan Tuhan pada saya. Saya melihat dengan jelas kemiskinan yang dialami orang-orang banyak. Bagaimana susahnya mereka mencari nafkah untuk makan sehari-hari. Untuk membiayai anak mereka pun susahnya setengah mati. Ada pula perasaan prihatin dalam hati saya melihat itu semua.
Namun yang membuat saya justru kagum kepada mereka adalah perjuangan mereka untuk mencari nafkah yang luar biasa. Mereka rela bekerja siang-malam membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Itu pun belum tentu semua kebutuhan dapat terpenuhi.
Bagi saya orang seperti mereka betul-betul hebat. Semangat mereka selalu ada dan tidak pernah putus asa. Saya jadi merasa malu jika melihat mereka. Begitu mendapat kesulitan sedikit saya sudah menyerah padahal kesulitan yang saya alami tidak seberapa jika dibandingkan dengan kesulitan mereka. Sekarang saya jadi sering berpikir. Mereka saja tidak pernah putus asa masa saya yang baru begini saja sudah menyerah ?
Yang pasti setelah melihat sendiri dan mengetahui lebih dalam sisi kemiskinan, saya jadi lebih menghargai apa yang saya punya dan bersyukur kepada Tuhan. Saya betul-betul merasakan kebaikan Tuhan yang luar biasa. Dan pastinya saya lebih menghargai uang karena saya tahu betapa susahnya orang tua mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga karena saya percaya dengan pepatah yang mengatakan hidup itu seperti roda. Ada saatnya di atas, ada pula saatnya untuk kempes. Dan bagi saya, tugas ini benar-benar telah membuka mata saya.



Cella ( X-4 / 16 )