Thursday, April 24, 2008

Refleksi pribadi : Di Balik Indahnya Kehidupan


Petugas kebersihan, pekerjaan yang sudah pasti sering kita dengar. Lalu, apakah itu? Kata itu hanya sering kita dengar dan kita lewatkan begitu saja. Memang terkesan tidak berarti, tapi apakah kita sudah memaknai lebih dalam arti pekerjaan itu?...

Sebetulnya, siapa sih yang paling peduli terhadap kata 'buang sampah pada tempatnya'?? Presidenkah? Pemerintahkah? Atau kamu? Tetapi yang pasti adalah ialah dia, siapa yang harus membereskan sampah-sampah itu kalau kita tidak meletakkannya pada tempatnya. Salah satunya adalah Bapak Jamhari, seorang petugas kebersihan RW012. Tentunya sungguh melelahkan menjadi petugas kebersihan. Mereka rela berpanas-panasan di tengah teriknya matahari yang sangat menyengat. Saya yang mewawancarai beliau selama 15 menit saja sudah tidak tahan, ingin cepat-cepat ngadem. Apalagi dia, yang sudah memulai pekerjaan itu sejak 6 tahun lalu.

Nilai-nilai apa saja yang saya dapatkan dari tugas kali ini? Tak terhingga. Ya, jawabannya tak terhingga. Saya tidak dapat menghitung banyaknya manfaat yang saya terima. Hanya dalam waktu 15 menit saya mendapatkan sesuatu yang berharga dalam hidup saya. Perasaan dan pengalaman yang tidak dapat dibeli dan dibuat-buat. Tetapi satu hal yang ingin saya katakan, bahwa di balik kehidupan kita semua, ada kehidupan yang tidak dapat terbayangkan dalam pikiran kita.

Dalam refleksi yang singkat ini, saya betul-betul belajar untuk memaknai semuanya. Nilai-nilai kehidupan yang saya dapat mungkin tidak dapat saya lukiskan dengan kata-kata, tetapi saya akan berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dengan mengingatnya, tetapi saya harus berhasil untuk menerapkannya agar orang lain pun dapat merasakan apa yang saya rasakan pada saat ini dan mereka juga punya kesadaran untuk memaknai hidup ini.

Semua yang saya lakukan adalah rasa syukur saya kepada Tuhan Yesusku, yang telah memberikan hidup yang kekal bagi kita dan terima kasih Tuhan atas kesadaran yang Kau berikan untuk memaknai semuanya.

God bless!


Oleh : Putri Pandora X4.25

Di Balik Indahnya Kehidupan

Senin, 21 April 2008 – Di hari yang terik, kami, Putri Pandora (X4.25) dan Vinny Aprilia (X4.31), sedang berjalan di kompleks perumahan di Kelapa Gading. Kami sedang mencari orang untuk kami wawancarai. Tiba-tiba kami melihat seorang petugas kebersihan yang sedang bertugas. Lalu kami memutuskan untuk mewawancarai bapak itu.
Kami meminta kesediaan bapak itu untuk diwawancarai. Bapak itu pun mempersilahkan kami untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan singkat mengenai dirinya. Dia menjawab dengan penuh kejujuran dan apa adanya. Kami pun merasa nyaman untuk berbincang-bincang dengan beliau.
Wawancara itu berlangsung dengan sangat baik, ditambah lagi ramahnya respon dari petugas itu. Beginilah hasil dari wawancaranya...

T : Nama Bapak siapa, Pak?
J : Jamhari.

T : Bapak sehari-hari bekerja sebagai apa?
J : Saya menjadi petugas kebersihan dari RW 012.

T : Pak, kalau boleh tahu, berapa penghasilan Bapak?
J : Wah, penghasilan saya per bulan Rp 535.000. Itu bersih, ga ada uang makan atau apa-apa lagi.

T : Bapak uda kerja berapa lama?
J : Ya ada 6 tahun.

T : Bapak ada berapa anggota keluarga?
J : istri ada 1, anak 7.

T : Berapa usia bapak?
J : 46 tahun.

T : Apakah istri bapak bekerja juga?
J : Istri sekarang uda ga kerja.

T : Anak-anak Bapak masih sekolah semua?
J : Anak uda pada gede-gede. Yang kawin ada 3, yang belum kawin 4.Saya sudah punya cucu 5.

T : Bapak masih biayain mereka?
J : Kaga sih. Ada yang udah kerja, tapi ada juga yang nganggur juga.

T : Apa mereka juga turut membiayai keluarga?
J : Kaga. Cuma kadang dikasi lah sedikit sama anak. Tapi kita sih ga minta.

T : Lalu apakah dengan penghasilan itu cukup untuk keluarga bapak?
J : Ya cukup ga cukuplah. Penghasilan segitu mana mungkin cukup satu bulan.

T : Kalau penghasilan itu tidak cukup, apa yang Bapak lakukan?
J : Kalo ga cukup ya mau ga mau minta anak atau ga minjem sama orang. Ya namanya rejeki, gimana ya, minjem kan harus ganti.

T : Rumah Bapak di mana?
J : Di Pulogadung.

T : Bapak ke sini naik apa?
J : Naik sepeda. Kalo naik angkot ga kuat ongkos. Bolak-balik aja uda Rp 4000.

T : Gimana perasaan Bapak untuk sekarang ini?
J : Ya, sabar-sabarin aja-lah kerja. Tunggu anak-anak kerja semuanya.

Refleksi kemiskinan di sekitar kita

Pada hari Senin tanggal 21 April 2008 yang bertepatan dengan hari R.A Kartini, saya dan Putri mewawancarai seorang tukang sampah di kompleks rumah Putri di Jalan gading Indah 5. Saya dan Putri mewawancarai beliau sekitar 15 menit. Pada akhir wawancara saya dan Putri memberi beliau uang sejumlah 20 ribu sebagai tanda terima kasih.

Saya menyadari jika dunia tanpa seorang tukang sampah, bumi kita akan tercemar dengan baud an kotornya sampah. Bagi saya beliau merupakan pahlawan dan orang yang berjasa untuk bumi kita. Beliau yang memunguti dan memisahkan jenis-jenis sampah sehingga sampah-sampah dapat diatasi. Walaupun beliau melakukannya karena terpaksa, itu demi mendapatkan uang agar beliau dapat terus hidup. beliau hanya orang kecil yang dilupakan dan dijauhi hanya karena mereka dari rakyat kalangan bawah. Saya yakin mereka juga tidak ingin melakukan hal seperti itu, hal yang kita benci dan jijik untuk dilakukan. Setiap orang juga ingin mendapat pekerjaan yang layak dan gaji besar. Tapi apa daya, kemampuan yang terbatas dan nasib baik yang kurang berpihak pada mereka. Belum tentu kita mau memunguti sampah yang berserakan yang ada disekolah. Tapi mereka, sampah apapun yang dapat mereka temui dianggap sebagai rejekinya. Maka saya salut dan patut dihargai jasa-jasa mereka. Walaupun gaji yang beliau terima tidak banyak sebanyak usaha dan kerja keras mereka, tapi beliau tetap semangat untuk kerja agar dapat menghidupi keluarga mereka. Biarpun anak mereka sudah besar dan dapat mencari pekerjaan sendiri, belum tentu semua anaknya dapat pekerjaan bahkan pengangguran. Dan belum tentu hidup beliau dibiayai oleh anak-anaknya. Di hari tuanya, beliaupun masih harus bekerja walaupun pas-pasan. Bahkan kadang ia masih hidup dalam kekurangan, beliau harus memaksakan dirinya agar uang tersebut dapat mencukupi hidupnya selama sebulan.

Dari cerita kehidupan tukang sampah tersebut saya menyadari bahwa saya harus menghargai beliau apapun pekerjaannya, apalagi jika ia sangat berjasa dan mau melakukan pekerjaan yang tidak kita mau kerjakan. Saya sangat terkesan dengan kerja kerasnya untuk terus bertahan dengan pekerjaannya demi keluaganya. Belum tentu saya yang hidupnya 10 kali lebih layak dan enak dapat bertahan dengan masalah-masalah kecil yang saya hadapi. Contoh, jika ada banyak tugas dan ulangan saya sudah banyak mengeluh. Saya juga jadi tambah menghargai semua yang saya miliki, setidaknya hidup saya sudah enak dan layak. Saya mendapatkan semua yang saya butuhkan dengan mudah, tidak seperti mereka yang harus membuang-buang keringat terlebih dahulu. Walaupun mereka hidup miskin tapi mereka menghargai dan mensyukuri semua yang mereka miliki. Saya sadar bahwa saya harus lebih peduli dan peka terhadap orang-orang miskin yang ada disekitar kita. Setidaknya saya membantu usaha kerja keras mereka dengan menggunakan jasa mereka ataupun membeli dari hasil usaha mereka, misalnya membeli makanan yang mereka buat atau karya-karya yang mereka buat.


oleh:

Vinny (31)





[Refleksi Pribadi] REVA, RINI, ALDA: Antara Ngamen, Lelaki, dan Perempuan

oleh Triska (29)

Wawancara dengan ketiga waria ini telah memberikan nilai-nilai kehidupan yang dapat saya petik, yaitu tentang bersyukur atas hidup, menikmati hidup ini, dan menerima perbedaan dalam masyarakat.

Saya merasa iba kepada mereka yang terpaksa menjalani pekerjaan sebagai pengamen karena mereka tidak memiliki keterampilan yang dituntut profesi-profesi lain yang lebih layak. Apalagi dengan orientasi mereka yang mengundang cemooh dari kalangan masyarakat.

Selama ini mungkin kita pun telah berlaku buruk terhadap kaum waria seperti mereka. Kita sering takut dan jijik terhadap mereka, sama seperti apa yang saya dan Lintang rasakan saat menghampiri mereka. Namun setelah menyelami pikiran mereka, berbincang-bincang tentang harapan untuk masa depan... saya menyadari bahwa mereka pun sama seperti kita.

Mereka, seperti kita, juga berharap untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang baik. Jangankan baik, mereka bahkan hanya mengharapkan yang 'layak' dan 'normal' seperti orang-orang lain pada umumnya. Bahkan jika ditilik lebih lanjut, usaha mereka untuk mencapai impian yang sesederhana itu justru lebih sulit dibandingkan dengan kita yang nantinya akan menjalani kehidupan 'layak' itu dengan sendirinya, mengingat banyaknya tembok penghalang bagi perbedaan-perbedaan yang ada di dalam diri mereka.

Contohnya Alda yang seorang gay, ia menyatakan bahwa dirinya tidak akan menikah (meskipun tentunya ia ingin) dikarenakan hukum di Indonesia yang melarang pernikahan gay. Atau Rini yang terpaksa menjadi waria untuk mencari nafkah karena tidak memiliki keterampilan khusus. Namun nantinya pasti image waria dan gay akan terus menempel pada diri Rini, yang akan menghambatnya dalam mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Meskipun begitu, mereka bertiga tetap berusaha semaksimal mungkin dalam menjalani hidup ini sebaik-baiknya.

Kita mungkin sekarang hanya akan berpikir, "Saya 'kan tidak seperti mereka, untuk memikirkan orang-orang semacam mereka?". Namun apabila kita berada di posisi mereka, sebagai waria dari kalangan menengah ke bawah, dengan keterampilan pas-pasan, apakah kita dapat bertahan hidup seperti mereka? Apakah kita dapat selalu menikmati hidup ini apa adanya seperti mereka?

Seringkali kita mempermasalahkan hal-hal yang sesungguhnya sepele dalam hidup ini. Sering juga kita mensesalkan kegagalan atau kesalahan kecil yang telah kita lakukan, sampai terlarut-larut di dalamnya dalam waktu yang lama. Tanpa melihat bahwa kita masih memiliki hidup yang baik, yang takkan terpengaruh dengan kesalahan kecil kita itu. Tanpa melihat bahwa di sekeliling kita masih banyak orang-orang yang lebih kesusahan dalam menjalani hidupnya, yang jauh lebih tak beruntung dibandingkan kita. Tanpa berpikir bahwa kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kita dan tidak mengulanginya lagi di lain waktu.

Alda, Rini, dan Reva menjalani hidup yang lebih berat daripada kita. Namun mereka masih dapat tersenyum dan menikmati segala suka duka dan tantangan yang dihadapi dalam hidup mereka. Itulah yang dapat saya tiru dari mereka.

Seperti kata Reva, "Yang penting dibawa happy aja."

REVA, RINI, ALDA: Antara Ngamen, Lelaki, dan Perempuan

oleh: LINTANG (18) dan TRISKA (29)

Untuk tugas religiositas kali ini, kami berkesempatan untuk mewawancarai tiga orang waria yang sering ngamen di sekitar rumah Triska di bilangan Kalibata. Memang, awalnya kami sempat merasa takut saat mendatangi mereka. Terutama saat mereka tidak mempunyai banyak waktu karena harus berkeliling mencari uang. Karena itulah kami terpaksa mewawancarai mereka dalam waktu yang singkat.

Kami berhasil mencegat mereka dengan bantuan tetangga yang memiliki warung di samping rumah Triska. Tiga orang ini memang sering ngamen di warung tersebut sehari-harinya. Hari ini kebetulan warung itu tengah dikunjungi banyak tamu, sehingga tamu-tamu itu menatap kami dengan heran saat kami mendatangi dan berbincang-bincang dengan waria tersebut. Tetapi hal tersebut tidak mengganggu berlangsungnya kegiatan ini.

Tiga orang ini memiliki nama panggung Alda, Rini, dan Reva. Usia mereka berkisar antara 25-30 tahunan, meskipun Reva mengaku usianya baru 17 tahun sembari tertawa genit. Perjalanan karir mereka berbeda-beda. Alda sempat bekerja di salon pada tahun 2002-2006. Sementara sebelum ini, Rini dan Reva mengenyam pendidikan sekolah.

Jam kerja mereka pun berbeda-beda dan tidak menentu. Terkadang dimulai pada jam 13.00 atau 14.30. Meskipun jam ini tergolong sangat siang bagi pekerja-pekerja biasa, namun jam kerja seperti ini wajar bagi kalangan waria, mengingat mereka harus bekerja sampai dini hari. Rute ngamen mereka dimulai dari berkumpul bersama waria-waria lain di stasiun tertentu dan melanjutkan dengan kereta Bekasi ke Manggarai, Bogor, dan banyak lagi tempat di Jakarta, salah satunya stasiun Pasar Minggu Baru yang dekat dengan lokasi wawancara ini. Pada hari-hari tertentu, misalnya Kamis, mereka juga mendapatkan job untuk tampil di diskotik.

Dari pekerjaan ini, mereka biasanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp 100.000,- setiap harinya. Namun pada hari-hari yang bercuaca buruk, misalnya hujan, mereka hanya mendapatkan sekitar Rp 50.000,-. Mereka mengakui bahwa pekerjaan sebagai waria mendapatkan banyak cercaan dari masyarakat, misalnya diperlakukan tidak sopan dan kasar. Tetapi mereka yang menganut prinsip hidup mengalir bagaikan air ini tidak mempersoalkannya.

”Yang penting dibawa happy aja,” ujar Reva santai, diikuti dengan anggukan kepala dari kedua temannya.

Ketika ditanya tentang alasan mereka memilih profesi ini, jawaban mereka pun beraneka ragam. Mayoritas alasan mereka berkaitan dengan orientasi seksual masing-masing.

”Kalo aku dan Alda sih udah dari kecil,” jawab Reva seadanya.

Meskipun ia tidak menjelaskan lebih rinci, namun kami sudah dapat mengetahui bahwa maksud ucapannya adalah tentang orientasinya yang homoseksual.

”Kecuali Rini, dia mah cuma untuk cari duit,” lanjut Reva.

”Kalo aku sih masih suka cewek sedikit. Yah, 50% cewek dan 50% cowok, gitu. Biseks,” kata Alda menimpali.

Bagaimana dengan tentangan dari orangtua? Reva menjawab bahwa ia dan kedua temannya memiliki status ’merdeka’, artinya belum diketahui oleh keluarganya karena mereka menjalankan pekerjaan ini dengan diam-diam. Jumlah anggota keluarga yang mengetahuinya hanya sekitar 20%, atau kerabat-kerabat terdekat saja.

Reva, Alda, dan Rini yang menganut agama Islam ini memiliki harapan sama seperti orang-orang lain, yaitu menjalani kehidupan selayaknya orang biasa, menjalani kehidupan rumah tangga, dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

”Alda dan Rini mungkin nantinya masih akan nikah, kalo aku sih nggak,” kata Reva, mengakhiri wawancara ini.

Wednesday, April 23, 2008

Kemiskinan di Tengah Kehidupan Kita

Kemiskinan memang sudah tak asing lagi di telinga kita. Apalagi, di negara Indonesia yang sangat banyak penduduknya, beragam latar belakang, budaya dan agama. Diantaranya, ada berjuta-juta penduduk yang tergolong dalam kategori miskin. Miskin yang dimaksudkan adalah hidup dalam keterbatasan ekonomi, dimana mereka mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, bahkan beradadalam kondisi serba kekurangan.

Salah satunya, adalah Pak Elan, seorang pembuat perahu yang tinggal di daerah Cilincing Jakarta Selatan. Saya dan seorang teman saya telah mewawancarainya. Kini saya mengetahui kehidupannya, pekerjaannya dan sebagian kecil dari suka duka yang telah ia alami sepanjang hidupnya.

Sejak kecil, ia dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang bisa dibilang tidak berkecukupan. Untuk mendapatkan makanan mereka harus berjuang dengan keras terlebih dahulu. Sejak orang tuanya meninggal, Pak Elan meneruskan usaha ayahnya untuk membuat perahu. Namun tak selamanya usaha ini berjalan dengan mulus. Ia pernah mengalami bangkrut. Ia mencari pekerjaan lain. Namun karena ia hanya mengenyam pendidikan hingga bangku sekaloh kelas 4 SD, maka pekerjaan yang bisa ia dapat hanya sebagai tukang batu, kemudian tukang bangunan. Hingga akhirnya ia dapat mengumpulakan modal untuk kembali bekerja sebagai pembuat perahu hingga saat ini.

Kini ia telah memiliki keluarga dan 4 orang anak. Beberapa diantaranya tidak sanggup ia sekolahkan, hingga akhirnya putus sekolah. Untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Pak Elan harus bekerja keras, dengan tekun dan ulet, agar para pelanggan mempercayainya untuk membuat perahu. Lagipula, ada kalanya orderan perahu sepi, bahkan sangat sulit untuk mendapat keuntungan. Tapi, usahanya dapat terus bertahan hingga saat ini, klarena usahanya yang gigih dan pantang menyerah demi melanjutkan kehidupan yang keras ini.

Itulah kisah singkat mengenai kehidupan salah seorang yang hidupnya berkekurangan. Di sekitar kita, masih banyak orang yang bernasib sama dengan Pak Elan, atau bahkan lebih buruk nasibnya. Mereka harus bekerja keras membanting tulang untuk dapat terus bertahan dalam kehidupan yang berat dibumi ini.

Dari wawancara langsung terhadap kemiskinan, saya mendapatkan banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui. Sayajadi lebih mengenal kehidupan ini. Bahwa tidak semua orang hidupnya mudah, berkecukupan dan bahagia. Ada yang kaya yang dapat menikmati kemewahan tanpa harus bekerja terlalu keras, namun ada juga orang yang miskin, yang tetap berada dalam kekurangan walau telah berjuang keras.

Tapi, diatas semuanya itu, Tuhan hadir dalam kehidupan kita semua jika kita mengundang Tuhan untuk hadir dalam kehidupan kita. Tuhan telah menciptakan manusia dengan segala perbedaan, ada yang kaya dan ada yang miskin. Bukan untuk membuat mereka menderita dan saling melecehkan. Namun untuk saling melengkapi satu sama lain.

Ada pula nilai-nilai yang saya dapatkan. Segala sesuatu dapat kita capai asalkan tetap berjuang dengan tekun dan gigih. Kita tidak mungkin mendapatkan hasil yang kita impikan jika hanya mengeluh dan terus mengeluh dengan kekurangan yang kita miliki. Di setiap usaha, pasti ada jalan, dan jangan lupakan Tuhan dalam setiap usaha kita. Campur tangan Tuhan pasti akan menbuahkan hasil yang terbaik. Karena Tuhan selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-Nya.

Kita juga tak boleh lupa untuk selalu bersyukur atas setiap berkat Tuhan yang kita terima. Baik suka maupun duka yang kita rasakan. Karena Tuhan telah menggambarkan rencana yang sangat indah bagi kehidupan setiap manusia, yang seringkali tidak kita sadari.

Maka kita semua, diharapkan untuk berbagi dengan yang miskin dan kekurangan. Tidak harus selalu berupa materi, tapi juga dapat berupa kasih dan perhatian bagi mereka yang membutuhkan. Sehingga mereka sadar bahwa masih banyak orang yang peduli kepada kehidupan mereka.



Vania X4-30

Kemiskinan di Sekitar Kita

Salah satu dari berbagai masalah yang terjadi di republik Indonesia adalah kemiskinan. Kemiskinan yang ada tidak hanya dalam rupa materi, tetapi juga kemiskinan akan iman, moral, kreativitas, dan sebagainya. Meskipun demikian, kemiskinan yang paling mencolok dan paling sering diangkat sebagai topik pembicaraan adalah kemiskinan material.

Di kota Jakarta, dari jendela gedung-gedung bertingkat yang megah dalam segala kemewahannya, kita dapat memandang deretan perkampungan kumuh di seberangnya. Sungguh ironis, segala bangunan megah yang tinggi menjulang berdiri bagaikan sebuah pulau indah di tengah samudra kemiskinan yang luas.

Kita tidak dapat memisahkan diri dari kemiskinan yang ada di sekitar kita. Bagaimanapun juga, kita semua hidup di Negara yang sama sebagai satu kesatuan. Alangkah baiknya kita menaruh perhatian kepada orang-orang yang dianggap kecil di mata masyarakat

Sehubungan dengan upaya mengenal kehidupan orang-orang kecil secara lebih dekat, kami mengadakan wawancara dengan dua orang pedagang kaki lima di kawasan Kelapa Gading. Kedua orang tersebut bernama Aris dan Samiati. Pertama-tama mari kita selami kehidupan Bapak Aris terlebih dahulu.

Bapak Aris berusia 35 tahun. Beliau berjualan mainan di depan Sekolah Tunas Karya, Kelapa Gading. Berbeda dengan pedagang-pedangang lain yang umumnya bersuara menggelegar, suara Bapak Aris begitu lembut, begitu pula tatapan matanya. Beliau juga cenderung tertutup. Ketika kami mendatanginya dan bertanya apakah kami boleh mewawancarainya, beliau pertama-tama menunjukkan ekspresi penolakan dan malah menganjurkan kami untuk mewawancarai para penjual makanan yang ada di sekitar sana. Tapi karena kami terus membujuk beliau, beliau akhirnya bersedia kami wawancarai.

Bapak Aris berasal dari daerah Brebes, Jawa Tengah. Beliau datang ke Jakarta karena alasan yang sama dengan alas an yang dimiliki orang-orang pada umumnya, yaitu untuk mengadu nasib. Beliau memaparkan betapa sulit kehidupan perekonomian di daerah asalnya.

Keputusan untuk berjualan mainan di depan Sekolah Tunas Karya adalah keputusan yang tepat bagi Bapak Arif. Menurut beliau, berjualan mainan tidak membutuhkan biaya yang terlalu banyak. Modal untuk membeli mainan-mainan tersebut kira-kira Rp 500.000,00. Sementara gerobak dapat beliau buat sendiri dari kayu-kayu yang ada. Keuntungan yang beliau dapat dari pekerjaannya tersebut bisa dikatakan lumayan, yaitu sekitar Rp 150.000,00 – Rp 200.000,00. Pekerjaan ini juga tidak mengharuskan beliau menguras tenaga dengan berkeliling menjajakan barang-barang dagangannya, sebab anak-anak yang akan datang menghampirinya. Selain itu, mainan tidak mungkin busuk seperti halnya makanan, sehingga tidak perlu takut busuk . Oleh karena itu Bapak Haris terus berjualan selama sembilan tahun.

Bapak Aris sudah bekeluarga dan telah dikaruniai seorang anak perempuan yang berusia delapan tahun. Dengan pendapatan yang beliau peroleh dari berjualan maianan, beliau masih sanggup menyekolahkan putrinya yang sekarang ini duduk di kelas dua sekolah dasar.

Setiap hari Bapak Aris bekerja dari pukul enam pagi sampai pukul lima sore. Pada hari-hari normal, dagangan beliau cukup laku. Namun, tiap kali banjir besar datang melanda DKI Jakarta dan wilayah Kelapa Gading khususnya, beliau tidak mendapat penghasilan sama sekali karena semua sekolah diliburkan. Naasnya, rumah kontrakan beliau di daerah Bermis, Kelapa Gading juga selalu terendam banjir. Akhirnya yang dapat beliau lakukan hanyalah pulang ke kampong halamannya untuk mengungsi sementara waktu. Beliau menguatkan dirinya dengan menganggap masa-masa pengungsian tersebut sebagai hari libur, walaupun jauh di lubuk hatinya beliau cemas dengan apa belau harus menghidupi keluarganya jika banjir di DKI Jakarta tidak kunjung surut.

Seperti semua orang di dunia, Bapak Aris pun selalu ingin maju di masal yang akan datang. Keinginannya untuk menarik lebih banyak pelanggan mendorongnya untuk mati-matian menyisihkan pendapatannya sedikit demi sedikit agar nantinya beliau bisa memiliki atau mengontrak sebuah ruko sebagai tempat berjualan. Beliau berharap agar kehidupan rakyat kecil tidak dipersulit oleh pihak manapun, terutama oleh pihak-pihak yang sering menunjukkan reaksi keras terhadap para pedagang kaki lim seperti dirinya.

Orang lainnya adalah Ibu Samiati (35). Ibu Samiati adalah seorang pedagang buah pepaya. Beliau berkediaman di Bermis, Kelapa Gading. Berbeda dengan Bapak Aris, Ibu Samiati adalah seorang perempuan yang tegas, terlihat dari sorot matanya dan cara berbicaranya. Tubuhnya yang gempal serta kulitnya yang coklat menambah seram penampilannya. Ibu Samiati sudah berkeluarga dan memiliki dua orang putri yang berusia 17 dan 2 tahun.

Ibu Samiati sudah berjualan buah-buahan selama 15 tahun. Beliau bukanlah orang asli Jakarta, melainkan berasal dari Madiun. “Mencari pekerjaan di Jakarta itu enak…” itulah jawaban Ibu Samiati ketika ditanyakan alasannya mengapa merantau ke Jakarta. Kemudian ketika ditanya mengapa memilih berjualan buah, Ibu Samiati berkata bahwa berjualan buah, khususnya papaya, mudah untuk dijual karena laku terus. Memang penghasilan didapatkan cukup untuk memenuhi kehidupan keluarganya sehari-hari, yaitu sekitar Rp 150.000,00 – Rp 200.000,00. Dari penghasilannya itu, Ibu Samiati bisa menabung sedikit untuk keperluan sekolah anaknya. Ibu Samiati berjualan dari pukul 7 pagi sampai pukul 11 malam.

Ada sebuah kisah unik yang terjadi pada saat banjir melanda Jakarta. Waktu itu karena banjir, Ibu Samiati terpaksa berjualan buah dengan cara melempar buah ke rumah-rumah warga yang menjadi korban banjir. Untungnya, rumah Ibu Samiati tidak terkena dampak banjir yang terlalu parah sehinggan harus mengungsi.

Sebagai manusia pada umumya, Ibu Samiati tentu memiliki beberapa harapan. Beliau ingin bisa memiliki sebuah rumah. Beliau juga berpesan lewat kami agar pemerintah memperhatikan nasib rakyat kecil dan untuk tidak menaikkan harga barang-barang kebutuhan.

REFLEKSI

AURELIA FEDIANA BUDIHARJO

X-4 / 03

Rasanya sudah ratusan kali saya menggunakan kata kemiskinan dalam berbagai essay yang saya buat. Namun saya berpikir, apakah dulu saya pernah benar-benar meresapi makna kata tersebut? Saya sendiri tidak ingat. Mungkin anda sendiri juga tidak ingat apakah anda pernah atau selalu sungguh-sungguh meresapi makna dari kata kemiskinan

Wawancara yang kami lakukan terhadap orang-orang yang dikategorikan masyarakat sebagai orang miskin membuat saya kini paham bahwa kemiskinan bukan sekedar kondisi dimana seseorang berkekurangan. Kemiskinan adalah sebuah kondisi yang keras di mana hanya orang-orang tegar yang sanggup menghadapinya. Kemiskinan adalah sebuah kondisi dimana seseorang harus berjuang mati-matian melawan dunia yang begitu pahit, begitu kejam,dan begitu menyakitkan, walaupun perjuangan tersebut tidak selalu bisa mengubah kenyataan getir tersebut. Kemiskinan adalah situasi di mana seseoranng diabaikan, dilecehkan, dan tidak dijunjung tinggi martabatnya.

Meskipun kemiskinan selalu merujuk pada pengertian yang negative, kita dapat juga melihat kemiskinan dari segi positifnya. Jika seseorang ditempatkan dalam kemiskinan, orang tersebut akan sungguh-sungguh memperlihatkan kualitasnya. Seseorang yang dipenuhi kebaikan akan berusaha mengatasi kemiskinan tersebut denagn cara megerjakan pekerjaan yang halal. Sementara itu, seseorang yang hanya dipenuhi oleh hawa nafsu akan berusaha mencari jalan pintas dalam mengatasi kemiskinan, misalnya dengan mencuri, menjual narkoba, dan sebagainya. Seseorang yang ditempatkan dalam kemiskinan juga akan diuji kesanggupannya dalam mensyukuri semua yang ia dapatkan.

Banyak orang yang menganggap orang-orang miskin yang ada di jalan-jalan mengganggu pemandangan. Banyak pula yang merasa kasihan melihat orang-orang semacam itu. Kini saya sendiri baru benar-benar menyadari, sebenarnya jika setiap orang tidak ingin terus-menerus merasa kesal atau merasa kasihan pada orang-orang miskin, tindakan yang perlu dilakukan hanya mengulurkan tangan kepada mereka. Yang saya maksud bukanlah uluran tangan yang memberikan sejumlah koin kepada mereka, melainkan uluran tangan yang menawarkan persahabatan. Dengan adanya persahabatan tersebut, kita tidak akan lagi menganggap mereka sebagai orang asing yang tidak sedap dipandang atau sebagai orang yang sekedar patut kita kasihani, melainkan sebagai sahabat yang harus kita kasihani, lindungi, dan hormati. Inilah yang dapat kita lakukan untuk mengatasi perendahan martabat kaum miskin yang kerap terjadi di Indonesia

PRISCILIA

X4 – 24

Kemiskinan adalah suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kemiskinan adalah suatu kondisi dimana seseorang hidup berkekurangan. Bila kita mendengar kata kemiskinan, yang terlintas di benak kita adalah jijik, mual, penuh dengan kekerasan, dan sebagainya. Padahal, kemiskinan tidak seburuk yang kita kira. Bahkan dari kemiskinan kita dapat mempelajari sesuatu.

Dua orang nara sumber yang telah saya dan rekan saya wawancarai, memiliki kesan yang jauh dari anggapan orang banyak mengenai kemiskinan. Bapak Aris dan Ibu Samiati adalah insan yang ramah, tidak kasar, tidak menjijikkan. Mereka mau melayani pertanyaan-pertanyaan kami dengan sabar. Mereka sopan, bahkan kepada kami yang lebih muda dari mereka. Mereka juga pekerja keras yang memiliki dedikasi dalam pekerjaannya, walaupun hanya sebagai penjual mainan dan penjual buah papaya.

Alangkah malunya kita, bila sebagai orang yang berilmu dan lebih “beruang” dibanding mereka tidak mampu bersikap ramah, kasar, jahat, tidak sopan, bahkan tidak mampu memahami etos kerja.

Yang sangat diharapkan dari kita, masyarakat kelas menengah keatas, mari bersama membangun relasi baik dengan orang “kalangan bawah.” Ayo kita atasi perendahan kaum miskin. Mulailah untuk menghargai dan menghormati orang miskin. Tuhan saja tidak pernah membeda-bedakan umatnya dari kalangan atas atau bawah, mengapa kita yang tidak punya kuasa berani mengelompokkan diri? Seperti yang telah saya katakan di awal, cobalah untuk belajar arti kerja keras dari mereka. Walau mengetahui kenyataan bahwa akan sulit untuk menjadi orang berkecukupan, mereka masih terus bekerja keras.

Apakah kita juga mampu untuk berja keras dan survive bila kita berada dalam posisi yang sama seperti mereka?

Pertanyaan di atas sekiranya dapat menjadi awal mula untuk mengatasi perendahan kaum miskin di Indonesia, bahkan di dunia.