Showing posts with label Jessica Eunice X4-11. Show all posts
Showing posts with label Jessica Eunice X4-11. Show all posts

Saturday, April 26, 2008

Selama ini saya selalu berpikir bahwa 30ribu bukanlah jumlah yang amat banyak, bahkan cenderung sedikit. Dan kalau saya pergi ke toko buku atau restoran, sering saya menghabiskan uang lebih dari jumlah tersebut. Karena itu ketika saya tahu bahwa dengan 30ribu adalah biaya hidup satu hari bagi Yanto, ibu, dan adiknya, saya merasa cukup kaget. Dan dalam otak saya muncul perhitungan biaya makan, uang sekolah, keperluan hidup lain, biaya untuk kebutuhan mendadak, dan berbagai macam beban yang harus dibayar.
Saya merasa tersadar, banyak yang harus bekerja keras untuk hidup, dan saya betul-betul melihat bahwa , inilah "bekerja untuk sesuap nasi", bukan "bekerja untuk seonggok berlian"(biasanya ungkapan ini untuk mereka yang memaksakan diri bekerja keras padahal penghasilannya sudah lebih dari cukup).
Saya kagum dengan Yanto yang begitu tegar dan mau berusaha, tidak hanya meminta-minta di jalan, namun juga bekerja untuk mendapat penghasilan. Ia tetap mengusahakan adiknya bersekolah, dan mau berkorban untuk hidup keluarganya. Saya merasa banyak dari sifatnya yang patut dijadikan contoh untuk masa depan saya nanti. Semoga saja ia bisa berhasil meniti kehidupan yang lebih baik lagi dibanding sekarang, dan semoga bukan hanya dia, tetapi juga banyak orang lain di luar sana yang bernasib sama.

Kerja Keras untuk Hidup : Yanto, Penjual Bakso Keliling



Jalanan agaknya lebih sepi dibanding biasanya pada hari Kamis, 24 April 2008. Mungkin sore-sore begitu belum banyak orang yang pulang kerja dan anak-anak muda yang biasanya nongkrong di daerah sana belum mulai melakukan aktivitasnya. Kami yang baru saja pulang sehabis melakukan tugas kelompok Kimia, saat itu sedang pusing-pusingnya memikirkan tugas wawancara religiositas kami sambil berputar-putar di sekitar komplek untuk sekedar melihat siapakah yang bisa dijadikan sasaran untuk wawancara dadakan. Dan tiba-tiba seperti mendapat "bantuan" dari atas, ,(hahaha), kami melihat sesosok tubuh berkemeja putih dan bertopi merah dengan gerobaknya di depan rumah salah seorang tetangga. Tanpa ba bi dan bu lagi, orang itu langsung kami jadikan target wawancara di sore yang mendung itu, dan dengan sedikit terburu-buru kami masuk ke rumah untuk mengambil dompet. Yah, kami berpikir akan lebih baik jika kami membeli paling tidak seporsi makanan apa pun yang dijadikan barang dagangannya (karena jaraknya agak jauh tidak terlihat dengan jelas apa yang dijualnya). Dan setelah melihat-lihat isi dompet, kami segera meluncur ke tempat ia berdiri bersama gerobak putih kesayangannya.

Tak ada semenit kami tiba di tujuan dan pertanyaan kami terjawab. Ia menjual bakso dengan berbagai variannya. Ada pangsit goreng, siomay, bihun dan mie sebagai pelengkap. Di sana, setelah sedikit basa-basi di awal pembicaraan, kami memutuskan untuk membeli sebungkus bakso untuk dibawa pulang. Memakai trik "bertanya secara alamiah" yang disamarkan menjadi ngobrol-ngobrol sekilas, kami tahu bahwa ia bernama Yanto. Kemudian diselingi kalimat, "Berapa porsi?", atau "Pakai seledri?" kami bertanya-tanya sedikit tentang hasil jualannya hari itu. Ia menjawab sambil sedikit tertawa, kalau hari itu belum terlalu banyak yang terjual, namun ia tak menyebutkan secara pasti berapa jumlah yang sudah terjual. Biasanya, ia mampu menjual hingga 20 mangkuk, namun tidak semuanya terjual dengan harga 5000 rupiah per porsinya, karena ada juga yang hanya membeli dengan harga 3000 atau 4000 rupiah. Sebetulnya dalam hati kami sudah berpikir bahwa itu lumayan banyak jika dihitung-hitung, sayangnya pikiran itu langsung menghilang setelah ditepis kalimat berikutnya, "Yah, tapi untungnya hanya sekitar 1500 per mangkok...Dulu sih hampir 2000an, tapi bahan-bahan harganya sudah naik, Non... Dan kalau harga baksonya dinaikkan juga, rasanya jadi kemahalan..." . Baiklah, anggap saja ia berhasil menjual semua mangkuk dengan harga 5000rupiah, keuntungannya pun hanya sekitar 30ribu rupiah. Jadi ingin membeli lebih, sekelebat pikiran menyusup, namun karena tidak satu pun di antara kami yang sedang ngidam makan bakso, jadi keinginan itu akhirnya tidak terealisasikan.

Yanto belum menikah tetapi ia menjadi tulang punggung keluarga bagi ibu dan adiknya. Dengan keuntungan yang ia peroleh, ia harus memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya serta membayar uang sekolah bagi adiknya. Sebenarnya kebutuhan keluarganya belum tercukupi dengan baik, apalagi dengan harga bahan sembako yang terus naik. Namun keluarganya meminimalkan segala kebutuhan yang harus dikeluarkan agar semuanya dapat terpenuhi.

Dan sekarang, Yanto hanya bisa berharap agar suatu hari nanti kehidupannya akan menjadi lebih baik lagi dari kehidupannya yang sekarang. Pembicaraan kami terhenti karena bakso kami sudah siap, karenanya kami segera membayar seraya mengucapkan terima kasih, bukan hanya untuk baksonya, tapi juga atas kesediaannya menceritakan sekilas mengenai kehidupannya.